Showing posts with label income. Show all posts
Showing posts with label income. Show all posts

Friday, April 3, 2015

Investasi dan Imbal Hasil

Apa yang ingin diraih dari investasi ? tentu saja imbal hasil. Imbal hasil bisa bersifat materi, bisa pula bersifat sosial [memangnya ada ?]. Ada, Cing ! Semisal Ente meminjamkan uang kepada teman yang membutuhkan modal dengan perjanjian sharing saham, padahal Ente tidak berminat, namun Ente masih saja memutuskan untuk berinvestasi kepada usaha teman Ente, maka Ane yakin bahwa keputusan Ente menanamkan modal -sepenuhnya disokong oleh pertimbangan sosial. Ente sudah bermurah hati. Dan Ane yakin ganjaran Ente kelak bisa dijumpai di Sorga dalam bentuk yang jauh lebih baik [Omongan Lu kayak Pak Haji Aje !]. hehehehe ..  tapi khan ada benarnya, Bos.
sumber gambar : forum.detik.com
Begini-begini, terlepas dari keputusan yang bersifat sosial tadi, sebenarnya ber-investasi pastilah didasarkan ingin mendapatkan keuntungan. Nah, "iming-iming" mendapatkan keuntungan cepat bermodal modal nekat ini seringkali menggiring seseorang terperangkap dalam Lembah Hitam investasi bodong [Pyuh ! bahasa Lu hiperbolis bingiitts]. Iya, Bro. Manusia mana, sih, yang nggak "ngiler" membayangkan investasinya berkembang 100% dalam waktu 2 minggu, atau, manusia mana, sih, yang nggak "ngengkol" jakun saat ditawarin investasi dengan imbal 3000 % dalam waktu setahun. Nggak ada, Bro. Ane yakin nggak ada. Yang nggak tergiur tawaran "gitu-gitu" itu cuman ayam dan bebek. Selama manusia yang ditawarin masih waras dan bernapas, mereka sudah pasti tergiur. Namun dapat dipastikan manusia yang tergiur itu adalah manusia yang tidak berpengetahuan dalam hal finansial, atau istilahnya tidak "melek" terhadap investasi jenis "Asbabul Abab" [apaan lagi, tuh ? jangan pake istilah planet lain napa !]. Investasi Asbabul Abab adalah investasi yang berkembang dan bertahan hidup dengan hanya mengandalkan omong kosong para marketingnya.
   
Investasi Bodong (sumber : OJK)

Nah, berapa sih imbal hasil wajar sebuah investasi ?

Macem-macem, Bro. Banyak parameter yang menentukan. Namun parameter utamanya adalah jenis investasi.

Semisal investasi di bidang Property, di beberapa lokasi yang premium, imbal hasil pertahun bisa mencapai 50% hingga 100%. Tapi tentu saja angka tersebut tidaklah linier sepanjang tahun, karena tentu saja, investasi ini dipengaruhi oleh supply-demand yang jelas-jelas bersandar pada daya beli masyarakat.

Untuk investasi di bidang per"saham"an, imbal hasil dalam kondisi normal rata-rata mencapai 20%. Tapi tentu saja investasi jenis ini memiliki potensi kerugian yang sebanding dengan "gain" yang akan diraih. Sedangkan untuk turunan dari saham, semisal "option", memang memiliki imbal yang lebih besar dari investasi saham, tetapi patut dicatet, potensi kerugian juga semakin tinggi seandainya investor tidak membekali dirinya dengan pengetahuan yang dapat meminimalisir resiko. [tumben, serius amat bahasanya]. Jadi, semisal ada agen atau marketing nawarin jenis investasi yang menghasilkan imbal hasil di atas 20%, namun dia mengatakan jika uang akan ditaruh di sebuah deposito, maka sudah pasti alias haqqul yaqin bahwa investasi tersebut masuk dalam kategori ASBABUL ABAB. Bisa termehek-mehek kalo Ente sampe kena jeratan investasi jenis ini.

Kasus lain Reksadana, berapa sih imbal Reksadana ini ? bisa 10% - 15 %, tergantung jenis reksadana yang diambil, serta tergantung pula kepiawaian dari manajer investasi. Pengalaman Ane yang pernah ditelepon Marketing sebuah magement asset Reksadana, beliau berkata jika pengalaman tahun 2014, reksadana yang mereka kelola mampu menghasilkan imbal hasil sebesar 10%, padahal nih, Bro, management asset mereka beberapa kali meraih penghargaan sebagai salah satu management asset terbaik di Indonesia. Dan Ane yakin perkataan dia memang jujur sebab data tersebut memang masuk akal.

Tipe investasi lain adalah Obligasi. Berapa sih imbal hasil obligasi ? Sukuk Ritel Negara tercatat mengeluarkan yield pertahun antara 8.17-8.75%, sedangkan Obligasi korporasi 7.6% -10.8%. Tentu saja Obligasi korporasi biasanya sedikit lebih besar di banding Obligasi yang dikeluarkan oleh negara.

[wait-wait .. obligasi Ntu apaan, sih ? Gua bingung, Bro] Yaelah .. mulut Ane ngomel sampe kesemutan, Ente baru nanya sekarang. Obligasi itu Surat Utang. OBLIGASI ITU SURAT KASBON. Ntar Penerbit Surat Kasbon itu ngasih "ongkos terima kasih" kepada Ente-Ente yang sudah bersedia minjemin uang dalam wujud yield per tahun. Lumayan, kan ?!

Lain lagi apaan ya ? Nah iya, Deposito, Bro ! Deposito bisa dilihat di Bank-Bank langganan Ente. Biasanya dicantumin di papan skor, eh salah, papan pengumuman yang itu-tuh, ada kurs rupiah terhadap dollar segala. Coba cek, sejak dua tahun terakhir, imbal deposito berada di kisaran 6.25%. Angka segitu belum termasuk pajak pemenang, eh salah, pajak investor yang biasanya 20%. [yaahh kecil, dong !] . Kecil sih kecil, yang penting goyangannya [Emang Lu pikir lomba joged agustusan ?!!]. HEHEHE.

Yang lebih kecil lagi tabungan, Bro. Coba cek aja. Seingat Ane cuman 4%. Dan apalah arti 4% dibanding inflasi real yang mencapai 10%. Yang jelas dengan menyimpan duit cash di celengan semar, sama artinya duit Ente dicopet tuyul sebesar 10% setiap tahun. Dan jika Ente menyimpan duit di bank untuk keperluan investasi, maka camkan !, itu sama artinya membiarkan duit Ente dikemplang Babi Ngepet sebesar 6% setiap tahun. Waspadalah !! Waspadalah !!! 

Selepas ini apakah anda masih berani ngikut investasi macam MMM (Manusia Mengemplang Manusia) ?

www.richwayout.blogspot.com (artikel investasi)

Tuesday, March 31, 2015

Masihkah menabung pangkal kaya ?

Masihkah menabung pangkal kaya ? mmmm .. bisa iya, bisa tidak, yang jelas menabung menjadikan kita akrab dengan customer service, teller, dan securities di bank. Betul, ga ? Nggaaakk ! 

Banyak penasehat finansial bilang [bukan saya loh, ya], bahwa menabung bukan lagi pangkal kaya. Konon kata mereka, menabung alias menyimpan uang cash hanya cocok digunakan untuk sedia payung sebelum hujan alias kondisi darurat. Berapa besaran kondisi dana darurat ?. Ah, tentu beda masing-masing orang. Tergantung dari besaran pengeluaran individu tiap bulan. Kalau setiap hari menuntut makan steak onta arab yang harganya limaratus ribu misalnya, tentu uang di kantong yang cuman seratus ribu akan menjadi darurat bagi perut orang tersebut [tuh, kan, mulai ngaco lagi]. Oke-oke, istilahnya akan gue ganti. Pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan istilahnya adalah "Besar lingkar perut daripada tali kolor".  

Dana darurat menurut mereka para pakar finansial adalah sebesar 12 kali pengeluaran bulanan. "Wow ! kecil banget ya". Iya-iya, kalau semisal Ente mampu dan kuat mengikuti gaya hidup cicak yang cuman makan laron.

Semisal nih, pengeluaran bulanan 5 juta, tentunya dana darurat yang disediakan ya 60 juta. Dana tersebut harus bisa "diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya" mampu berada di tangan kita. Dengan dana tersebut, diasumsikan selama satu tahun mendatang, kita-kita ini diharap bisa mencari sumber pendapatan lain agar kondisi tanggap darurat tersebut segera berakhir.

Nah, kembali ke topik. Mengapa menabung bukan lagi menjadi pangkal kaya. Konon, nih, sekali lagi konon loh ya ... Imbal hasil dari menabung sudah kedodoran melawan inflasi. Inflasi ini adalah maling. Maling yang puaaaliiingg halus. Raja gendam aja kalah. Bayangkan  .. inflasi ini dalam setahun secara real sudah hampir 10 %. "Eh, kata siapa ? ga sampe segitu tuh kata BPS". Iya-iya, angka pemerintah memang ga sampe segitu, tapi coba aja rasakan sendiri. Obat kurap aja setiap tahun naik. Ada memang yang harganya tetep -tapi dengan catetan, stok lama, atau obatnya kadaluarsa. Husss !!

sumber gambar : sharia.co.id
Nah, mengapa imbal hasil tabungan "letoy geboy" melawan inflasi. Terang aja, Bro. Imbal hasil tabungan cuman 4% setiap tahun. Jelas kalah melawan inflasi. Apalagi kalu ente nabungnya cuman di Celengan Semar, malah semakin "lapuk" duit ente dimakan inflasi. Yang tahun ini bisa dipake beli kambing gedhe, eh-eh, tahun depan cuman bisa dipake beli anak kambing. Jadi deh lo beli anak kambing sambil nyanyi "mana-dimana kambing gedhe saya, kambing gedhe saya kok dimakan inflasi. Cacamarica Hey-Hey ! Cacamarica Hey-Hey !"

Nah, loh ! masih berbikir bahwa menabung pangkal kaya ?



www.richwayout.blogspot.com (artikel investasi)

Saturday, March 28, 2015

Enam Tangga Finansial, apakah itu ?

Pernah mendengar enam anak tangga finansial Anthony Robbins ? ah, jangan-jangan malah belum kenal siapa itu Anthony Robbins. Ya, dia adalah Motivator yang konon nomor 1 di dunia. Wow !







sumber : awaken.com 


Enam tangga finansial yang dicetuskan Robbins menjadi cukup populer. Mengapa ? karena dia mendefinisikan kemampuan finansial berdasarkan step-step tertentu, yaitu :

  1. Financial Protection, suatu kondisi keuangan ketika mempunyai cukup uang untuk memenuhi pengeluaran bulanan minimum, untuk 2 bulan sampai 24 bulan tanpa harus bekerja
  2. Financial Security, suatu kondisi keuangan ketika kita memiliki aset investasi cukup banyak yang aman, dan hasilnya dapat mencukupi kebutuhan standar tanpa harus bekerja. Kebutuhan tersebut adalah: angsuran rumah, biaya makan, biaya listrik, gas dan air, biaya transportasi, biaya asuransi dan pajak.
  3. Financial Vitality, kondisi keuangan dimana kita mempunyai investasi cukup banyak yang relatif aman. Selain dapat memenuhi kebutuhan pada Financial Security, juga memenuhi kebutuhan pendidikan anak, hiburan dan membeli barang mewah yang masih masuk akal.
  4. Financial Independence, suatu kondisi keuangan dimana kita mempunyai investasi cukup banyak yang relatif aman, hasilnya dapat mencukupi kebutuhan hidup kita persis dengan gaya hidup kita sekarang. Kerja nggak kerja kita tetep makan.
  5. Financial Freedom, suatu kondisi keuangan dimana kita mempunyai investasi cukup banyak yang relatif aman, hasilnya dapat mencukupi kebutuhan kita dengan gaya hidup yang kita inginkan.
  6. Absolute Financial Freedom, kondisi keuangan dimana kita mempunyai investasi cukup banyak yang relatif aman, karena itu kita yakin bahwa kita bisa melakukan secara nyata apapun yang kita inginkan, kapanpun yang kita inginkan, kemanapun yang kita inginkan, dengan siapapun yang kita inginkan, sebanyak dan selama yang kita inginkan.

Nah. enam anak tangga finansial Robbins memberi cermin kepada kita, sampai dimanakah tahapan keamanan finansial kita. Lain Robbins, lain pula Robert T Kiyosaki. Kiyosaki memberi definisi kaya sebagaimana berikut : 

Kiyosaki berujar bahwa tingkat kekayaan seharusnya tidak diukur dari seberapa besar penghasilan aktif yang diterima dengan cara bekerja. Melainkan, seberapa besar penghasilan pasif yang dapat diterima tanpa ada kewajiban untuk bekerja sama sekali. Entah Kiyosaki sepakat dengan Forbes apa tidak, yang jelas Forbes memberi kriteria kaya dengan lebih gila lagi, yaitu : mereka yang setidaknya mampu membukukan penghasilan US$ 1 juta dalam setahun.


Anda pilih mana ?


Ada juga pepatah bijak yang menyatakan, kekayaan hakiki bukanlah barang atau harta yang kita miliki saat ini, akan tetapi kekayaan hakiki adalah apa-apa yang telah kita dermakan dan berikan kepada orang lain untuk diambil manfaatnya. Setuju yang mana ?




Friday, March 27, 2015

Wow, Massive Income (Pendapatan Masif) !! Betapa Legit !!!

Mendapatkan 1 Milyar dalam semalam ? atau Memenangkan kotrak besar ? Memiliki bisnis yang menghasilkan pendapatan dalam jumlah besar ? Itulah pendapatan masif alias Massive Income.

Dailysocial.net pernah membahas soal pemasukan "Twitter dan Facebook" dari Indonesia. Berapa coba ? Luar biasa besar. Sampai-sampai pendiri kedua social media itu bela-belain datang ke Indonesia, bersikap seolah Indonesia cukup dekat dengan mereka. iya, kan  ?

sumber : liputan6.com
Massive income adalah pendapatan yang sangat besar paling tidak lebih besar berkali-kali lipat (minimal lebih dari 1) dari pendapatan bulanan Anda. 

Apakah anda pernah menjual suatu barang dan mendapatkan komisi karena menjualkannya ?

Bayangkan, jika yang dijual bernilai besar, atau yang dijual memiliki repetisi besar (misalnya 1000 kali atau 1 juta kali), Wow, anda akan bisa menghitung pendapatan yang akan akan dikantongi.


Dan jika anda cukup smart dalam mengelola dan memanfaatkannya, semisal mendapatkan penghasilan dari Rp. 1 saja, Anda bisa mendapatkan massive income.


contoh profesi yang berpotensi mendapatkan massive income : 

Pialang Property, Public Speaker, Internet Marketer, MLM, mendirikan Franchise, mendirikan affiliate marketing, mendirikan Startup dll.

Selamat berburu !! yang jelas, pepatah lama mengatakan : Penghasilan yang memuaskan selalu di dahului dengan keseriusan untuk melatih kemampuan. 


Pendapatan Pasif vs Pendapatan Aktif dan alternatif investasi

Apakah anda kenal istilah pendapatan pasif ? 




Baiklah, berdasarkan istilah pasif income adalah pendapatan yang dihasilkan dari pekerjaan pasif, contoh pemilik rumah sewa yang mendapatkan pendapatan pasif dari persewaan, penulis buku, pengarang lagu, penemu hak paten, atau setiap profesi yang mendapat royalti atas penjualan kekayaan intelektual karangannya.

Nah, apa beda dengan Pendapatan aktif ?

Pendapatan Aktif adalah pendapatan hasil kerja sehari-hari Anda. Misal Anda bekerja sebagai pegawai swasta, pemerintah, pemilik toko, pengacara, dokter atau lain-lain. Pendapatan aktif memiliki ciri yaitu, ketika kita berhenti bekerja maka pendapatan kita akan berhenti alias tidak mendapatkan income. Jadi untuk mendapatkan pendapatan aktif, kita harus bekerja terus menerus tanpa henti. Nah, anda akan memutuskan memilih jenis profesi yang mana ?

Sebenarnya tidak perlu memilih, karena, beberapa profesi yang berjenis Pendapatan Aktif memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendapatan dari jenis pasif, tentunya apabila mereka mengalokasikan simpanan pendapatannya kedalam instrumen investasi yang dapat menghasilkan pendapatan pasif.

Mana saja instrument investasi yang bisa mendatangkan pendapatan pasif ? barangkali anda bisa memilih salah satu dari jenis investasi di bawah ini, yaitu :

1. Obligasi yang memberikan kupon setiap bulan atau per tiga bulan sesuai kontrak.

2. Saham (Deviden dan Capital Gain)

3. Reksadana pendapatan tetap.

4. Rumah Sewa, Homestay, rumah toko, apartemen, atau kios sewa.

5. Bisnis yang dijalankan sendiri atau dioperasikan pihak ke-3.

6. Usaha franchise.


Jenis alokasi investasi tersebut akan lebih baik jika dipilih sesuai dengan pengalaman, pengetahuan, dan sisi psikologis calon investor. Karena bagaimana pun juga, jenis investasi pastilah memiliki resiko, baik yang bersifat besar, sedang, atau pun ringan.

NB : jenis pilihan investasi aset